Awalnya saya merasa bingung ketika hendak mengikuti perlombaan diary OSM terkait dengan tema yang diusung yaitu “Perempuan dan Pemetaan OpenStreetMap”. Sebagai seorang laki-laki, saya sempat mempertanyakan apa yang bisa saya tuliskan dari tema ini karena pengalaman laki-laki dengan perempuan tentu sangat berbeda dalam menjalani kehidupan.
Namun setelah saya berpikir dan merenungkan ketika berada di ruang publik Kota Samarinda. lebih tepatnya di kawasan Taman Cerdas Samarinda, disini saya mulai memahami bahwa konsep, makna dan kegunaan dari sebuah peta itu bukan hanya meliputi jalan, bangunan ataupun titik lokasi melainkan tentang bagaimana manusia bisa merasakan ruang dalam kota tersebut.
Dari tempat ini saya melihat banyak sekali perempuan yang beraktivitas mulai dari seorang ibu yang membawa anaknya bermain, mahasiswi yang membaca buku hingga berdiskusi dengan teman sebaya nya dan juga perempuan yang menggunakan area tersebut untuk melakukan senam secara bersama-sama. Dari sini saya menyadari bahwa perempuan memiliki pengalaman yang berbeda dalam menggunakan akses ruang publik terutama terkait dengan rasa kenyamanan, aman serta fasilitas yang tersedia.
Dengan melalui OpenStreetMap saya melihat dan memaknai bahwa pemetaan dapat menjadi media untuk menghadirkan ruang kota yang lebih inklusif. Informasi seperti halnya penerangan jalan. jalur pejalan kaki hingga akses menuju taman dapat menjadi data penting bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke suatu tempat. Hal-hal kecil yang sering dianggap biasa ternyata sangat berpengaruh terhadap kenyamanan perempuan saat berada di ruang publik. Sebagai contoh, jalur menuju taman yang minim penerangan terutama pada sore dan malam hari. Oleh karena itu, OpenStreetMap bukan hanya berfungsi sebagai peta digital tetapi juga sebagai ruang kolaborasi masyarakat untuk mendokumentasikan kebutuhan lingkungan perkotaan secara lebih manusiawi.


